Meta

Random Quran

Cari artikel lain
gSalaf


BlogSalaf

Pesan Antum

Kategori

Siapakah Abdul Hakim bin Amir Abdat

Penulis: Syaikh Yahya Al Hajuri hafidhohullah

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ،

Amma ba’d:
Allah Ta’ala telah berfirman,
فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Yang artinya: [Maka bertanyalah kalian kepada ahludzikr jika kalian tidak mengetahui ] (An Nahl :43)

وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ
[Dan jika datang kepada mereka suatu perkara dari keamanan atau ketakutan mereka menyebarluaskannya dan kalau seandainya mereka kembalikan kepada Rasul dan kepada ulil amri dari mereka, benar-benar akan mengetahuinya orang-orang yang memahaminya dari antara meraka ]. (An Nisa’: 83)

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh saudara–saudara dari Indonesia kepada guru kami Abu Abdurrahman Yahya bin Ali al Hajury semoga Allah senantiasa menjaganya (beliau pengganti pengasuh ma’had Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah sepeninggal beliau, red), yang telah dikatakan kepadanya oleh Guru dan Ayah kami al Muhaddis al ‘Allamah (ahli hadits yang sangat berilmu) Imam dalam ilmu Jarh dan Ta’dil Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi al Wadi’iy semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadaNya dan memasukkannya ke surgaNya yang luas : “Sesungguhnya dia (syekh Yahya) adalah ahli hadits yang faqih (membidangi fiqh) , pemberi nasehat dan amanah, disukai oleh saudara-saudaranya karena apa yang mereka lihat padanya dari keyakinannya yang baik, kecintaannya terhadap sunnah dan kebenciannya terhadap hizbiyyah (kekelompokan) yang bisa merubah (seseorang menjadi jelek), dan dia membantu saudara-saudaranya muslimin dengan fatwa-fatwa yang bersandar pada dalil”.

Maka soal-soal ini dan jawaban syekh Yahya atasnya adalah tepat dengan apa yang telah dijanjikan oleh syekh Muqbil sebelum meninggalnya.

Kami memohon kepada Allah untuk membenarkan jawaban syekh Yahya atas pertanyaan-pertanyaan ini dan menjadikannya dalam timbangan kebaikannya sesungguhnya Dia yang mengurusi itu dan yang Maha Mampu atas yang demikian.
Dan sebelum masuk kepada soal, kami akan menyebutkan sejarah ringkas tentang dakwah salafiyyah di Indonesia.

Seperti diketahui oleh semua bahwa tersebarnya dakwah salafiyyah di Indonesia adalah setelah kedatangan saudara dan guru kami Ja’far bin Umar Tholib -semoga Allah selalu menjaganya- (catatan : Kini dia telah menyimpang dari jalan Ahlussunnah wal Jama’ah dalam beberapa hal, semoga Allah mengembalikannya kepada jalan yang lurus dengan baik, pent) dari (perguruan) Darul Hadits di Dammaj (Yaman), ini adalah dari keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian keutamaan dakwah syekh Muqbil semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu merahmatinya, dan di awal dakwahnya dahulu semua para da’i bersatu dalam satu kalimat tapi tatkala muncul fitnah sururiyyah, berpecahlah salafiyyun. Diantara pembesar da’i Surury disana dalam fitnah ini adalah seorang yang disebut Yusuf bin Utsman Ba’isa, dia adalah direktur pesantren al Irsyad dahulu (Ma’had Al Irsyad, Tengaran, Salatiga, red), dimana dia membela Sayyid Qutb, Salman al Audah, Safar al Hawaly, dan Abdurrahman Abdul Khloliq. Dan sangat disayangkan, sebagian orang yang dulu teman kita telah membelanya, mereka dari yayasan At Turots al Islamiyyah Indonesia dan yang mengepalai mereka adalah Abu Nida’, dia adalah direktur yayasan tersebut dan Abu Ibrohim Sholeh Su’aidi sebagai wakilnya yang sekarang tinggal di (perguruan) Darul Hadits di Ma’rib (Yaman, perguruan syekh Abul Hasan) juga orang-orang yang semacamnya, semakin parah fitnah tersebut dengan kedatangan Abdurrahman Abdul Kholiq di Indonesia di pesantren al Irsyad seperti telah disebutkan, lalu Jum’iyyah Ihya’ Turots -Kuwait- mengirim seorang dari mesir yang bernama Syarif bin Fuad Hazza’, (orang) yang telah ditahdzir (diperingatkan umat darinya) oleh syekh Muqbil dan dianggap sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) oleh syekh Rabi’ semoga Allah menjaga beliau dan menyembuhkannya, maka bertambahlah basah tanah liat (yakni semakin parah) dengan kedatangan orang Mesir ini sampai terjadinya mubahalah (sumpah saling melaknati) antaranya dengan Ja’far Umar Tholib, kemudian terus berlangsunglah fitnah sampai pada hari ini. Sekarang menuju soal-soal. Apa yang akan kami sebutkan dari ucapan dan perbuatan mereka yang menyeleweng, hal itu setelah dicek keberadaan perkataan tersebut dan setelah dinasehati para pelakunya :

Pertanyaan keenam :
Apa pendapat antum/anda dalam masalah ini, yaitu bahwa mereka hizbiyyin mengundang syekh Ali Hasan al Halaby dan Salim al Hilaly ke markas mereka dengan tujuan mendamaikan antara mereka dengan akh Ja’far serta yang bersamanya dari da’i-da’i salafy, kemudian mereka berdalil dengan kedatangan keduanya kepada mereka bahwasanya mereka adalah Salafy, sebagaimana diketahui bahwa akh Ja’far dan da’i lainya yang salafy tidak mendatangi majlis itu, kamipun menghubungi akh Ja’far dan jawabannya terekam di kaset, dia sebutkan sebab ketidakhadirannya ke majlis tersebut, dan ini nash perkataannya - semoga Allah menjaganya - : Adapun ketidakhadiranku di muhadhorohnya/ceramahnya syekh Ali Hasan dan Salim al Hilaly di Surabaya maka ada sebab-sebabnya:
1. Yang pertama: bahwa muhadhoroh berlangsung di kandangnya hizbiyyin yaitu madrasah al Irsyad (Ma’had Ali Al Irsyad, Surabaya, asuhan orang al Irsyad, Abdurahman at Tamimi, Mubarak Ba Mu’allim, red), dan kedatanganku di kandang mereka akan menjadi fitnah terhadap dakwah salafiyyah .
2. Bhwa yang hadir pada muhadhoroh tersebut, adalah hizbiyyun yang memusuhi sunnah, bahkan sebagiannya telah diketahui oleh syekh Ali Hasan seperti Abu Nida’ dan beliau mengatakan tentangnya: dia adalah paling lemahnya yang lemah. Yang kedua, Yusuf Baisa, syekh Ali Hasan berkata tentangnya bahwasanya dia bukan (kurang jelas)………ketiga Abdul Hakim Abdat (biasa disebut ahli hadits dari Jakarta oleh pengikutnya, punya halaqah di masjid DDII Jakarta, berhubungan dgn Al Sofwah, red), dia telah menentang sunnah hijab dan dia mentakwilkan hadits dengan pemikirannya yang menyeleweng sampai dia katakan dalam hadits [ Semua kesesatan itu di neraka ] ia berkata: maknanya, bahwa yang masuk neraka adalah bid’ah adapun orangnnya maka tidak mesti, begitu katanya, orang yang menyeleweng ini Abdul Hakim Abdat, dan ketiga orang ini … dan yang lainnya yang memusuhi Sunnah, kedatangan mereka disitu menghalangiku dan yang semisalku untuk datang, ini sebabnya dan bukan karena sebab dua syekh tersebut, demi Allah sesungguhnya ketidakhadiranku karena kehadiran mereka orang-orang itu.

Adapun masalah syekh Ali, beliau pernah menyampaikan muhadhoroh di pesantrenku setahun atau dua tahun sebelum kedatangannya yang kedua, dia pernah duduk di rumahku dan saya pun pernah duduk di rumahnya, dia pernah makan di meja hidanganku dan akupun pernah makan di meja hidangannya dia tahu saya dan saya tahu dia maka ketidak hadiranku bukan karena yang memberi muhadhoroh tapi hanya karena orang-orang yang datang dalam muhadhoroh, begitulah. Wallahua’lam .

Jawab :
Hasilnya –semoga Allah memberkahi kalian- bahwa saudara kita syekh Ja’far semoga Allah memberikan perhatian-Nya kepadanya. Dia orang yang menegakkan dakwah salafiyyah di sana dan dialah yang melaksanakannya diatas kaki dan betisnya (maksudnya, kokoh di atas dakwahnya) dan guru kita (syekh Muqbil) memujinya (Tentu sebelum tampak penyimpangan-penyimpangannya dari manhaj ahlussunnah) -semoga Allah merahmatinya-, orang yang utama ini.

Telah datang syekh Ali hasan Abdul Hamid dan syekh Salim al Hilaly ke kediamannya sururiyyah, telah mengundang mereka sururiyyuun, maka merekapun datang di kediaman mereka, dan al akh/saudara Ja’far tidak mendatanginya, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas perbuatannya dimana dia katakan: telah menghalangiku dan yang semisalku, –perkataan ini bukan hanya perkataan Ja’far, ini adalah perkataan seluruh Ahlussunnah yang jujur, telah menghalangi kita semuanya sama saja itu Ja’far atau kita semuanya untuk menghadiri ceramah-ceramah, untuk datang di tempat-tempat hizbiyyin walaupun yang berceramah bukan dari hizbiyyin, dan berkata kepada yang datang dia tidak akan berceramah.

Maka jika Ja’far datang dan orang-orang melihatnya datang ke tempat sururiyyun mereka akan terfitnah, benar, mereka akan mengatakan: Bagaimana kalian larang kami untuk datang ke tempat mereka, padahal telah mendatangi mereka al akh Ja’far. Perkataan yang sangat benar dan tiada tambahan lagi dalam masalah ini, dia telah diberi taufiq dalam masalah ini.

Adapun syekh Salim dan syekh Ali, maka saya insya Allah akan berusaha menghubngi keduanya dan saya akan melihat apa yang menjadikan keduanya hadir di tempat orang–orang sururiyyun padahal syekh Ali telah mengetahuinya, dan dia sendiri telah mencacat sebagian mereka, kemudian dia beri muhadhoroh di tempat mereka, hasbunallah wa ni’mal wakil, padahal saya tahu kalau beliau pergi ke Inggris beliau turun di tempat salafiyyuun dan berceramah di tempat salafiyyuun, begitu juga dia dan syekh Salim dan syekh Muhammad bin Musa Nasr.

Mereka hanya pergi dan menolong saudara-saudara mereka salafiyyin tidak menolong sururiyyin, maka ini adalah kejadian baru, kita butuh untuk mengetahui apa sikap dua syekh ini dalam masalah ini, dan sekali lagi semestinya mereka bertaqwa kepada Allah janganlah memperbanyak jumlah pengikut hawa nafsu/bid’ah dan jangan sampai pula pengikut hawa nafsu memperbanyak jumlah dengan mereka (kedua syekh tersebut) dan jangan sampai menjadi sebab fitnah dan tertipunya Ahlussunnah, maka ini (mestinya) tidak mereka lakukan.

Dan telah sampai kepadaku di dalam kaset ini pula bahwa syekh Rabi’ -semoga Allah memberikan perhatian-Nya kepadanya- disampaikan kepadanya masalah ini lalu beliau berkata kepada Ja’far tulislah ini dengan dalil-dalinya/bukti-buktinya dan aku akan menasehati keduanya, menasehati Ali hasan dalam masalah ini. Ya, tidak diragukan lagi bahwa keduanya membutuhkan nasehat, dan tidak sepantasnya turun di tempat…apakah semua yang mengundangmu akan kau penuhi?!, apakah semua yang mengundangmu akan kau penuhi? ya, hanyalah yang engkau penuhi undangannya siapa yang kau tahu dari kalangan Ahlussunnah, karena perbuatan yang baik dan karena tiada penipuan dan untuk tolong menolng dalam kebaikan, firman Allah Ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
[ Dan kerjakanlah kebaikan mudah–mudahan kalian menang ] (Al Hajj:77)
[ Permisalan Kaum mukminin adalah seperti bangunan yang saling menguatkan sebagian dengan sebagian yang lain ] yakni saling menguatkan, pada hal apa? pada bid’ah? Atau saling membantu dalam masalah bid’ah? Memperbanyak jumlah sururiyyah? Tidak! (bahkan) di atas kebenaran, menguatkan sebagian dengan sebagian yang lain di atas yang hak di atas sunnah, Allahlah tempat kita meminta pertolongan dan cukuplah bagi kita Allah, Dialah sebaik-baik yang mengatur urusan.

Tambahan Penting dari redaksi :
Abdul Hakim Abdat tertera di website alsofwah.or.id sebagai da’i Al Sofwah, pergaulannya sangat erat dengan Yazid bin Abdul Qadir Jawwas (simak di Tambahan Penting dari Redaksi di http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=659 tentang Yazid Jawwas). Adapun yang perlu disoroti :
1. Kaitannya Abdul Hakim Abdat yang erat dengan DDII, terbukti dalam banyak kajian sering dilakukan di masjid Al-Furqan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Jl. Kramat Raya No. 45, Jakarta Pusat. Padahal di dalam DDII terdapat orang dengan beragam manhaj jadi satu.
2. Diantara orang DDII yakni Hartono Ahmad Jaiz, yang memuji Abdurahman Abdul Kholiq sbg ulama Salaf dalam pembukaan buku Raport Merah Aa’ Gym. Padahal Hartono Ahmad Jaiz adalah aktifis L-Data Lembaga Dakwah dan Ta’lim Jakarta yang beralamatkan aldakwah.org, yang isi websitenya sangat erat dengan pemikiran Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Yusuf Qardlawi, dkk. Belakangan ini Hartono Ahmad Jaiz semakin dielu-elukan setelah menulis bantahan terhadap JIL, merilis buku Islam Sempalan di Indonesia, sehingga dia dianggap “ustadz” dan sering mengisi kajian di Al Sofwah dengan sebutan Haji Hartono Ahmad Jaiz. Tak ragu lagi keterkaitannya dengan Al Sofwah terbukti dalam beberapa judul kaset produk tasjilat Al Sofwah. Hartono Ahmad Jaiz juga editor terjemah tafsir Ibnu Katsir bersama-sama dengan Yazid Jawwas, Mubarak Ba Mu’allim, Abu Ihsan Al Maidani dan tokoh ikhwani pendukung Sayyid Quthb tulen, Hidayat Nur Wahid dkk. Belakangan Hidayat Nur Wahid menjadi editor terjemah Tafsir Fi Dhilalil Qur’an, Di bawah naungan Al Qur’an karya Sayyid Quthb yang diterjemahkan oleh Dr Idrus Abdul Shomad dan Mufti Labib.
3. Kaitan Abdul Hakim Abdat dengan yayasan Al Kahfi Batam, yayasan Ubudiyyah, Riau, sehingga syaikh Kholid ar Raddadi mengecamnya dengan keras.
4. Kaitan Abdul Hakim Abdat dengan Al Haramain Al Khoiriyyah - yayasan yang terkait dengan Usamah bin Laden cs, sehingga ditutup oleh pemerintah Saudi - dan yayasan Al Sofwah dalam acaranya di masjid Al Sofwah, mengajar bersama Abu Qatadah - da’i resmi Al Sofwah, dll, simak buktinya di file atturots.network.zip yang tersedia di Download Center www.salafy.or.id/download.php
5. Kaitan Abdul Hakim Abdat dengan orang-orang majelis At Turots Al Islami, yakni mengajar bersama Abu Ihsan Al Atsary Al Maidani - penerjemah Al Sofwah juga - , Arif Syarifuddin, Kholid Syamhudi, yang berhubungan dengan Ihya ut Turots.
6. Abu Ihsan al Atsary Al Maidani, rekan Abdul Hakim ini turut menyumbangkan sumbangsih besar sebagai pembawa pesan quthbiyyun di Indonesia. Dia menerjemahkan kitab as Sirajul Wahhaj fi Bayanil Minhaj, karya Abul Hasan Musthafa bin Ismail as Sulaimani al Mishri, yang diberi judul 269 Prinsip Kaidah Manhaj Salaf, buku ini dikritik habis oleh syaikh Rabi’ Bin Hadi, bahkan Abul Hasan ditahdzir karena pemikiran quthbiyyunnya oleh puluhan ulama termasuk syaikh Rabi’ bin Hadi, buku ini diterbitkan oleh pustaka at Tibyan. Penerbit yang sama juga menerbitkan karya Quthbiyyun berjudul ath Thoghut, karya Abdul Mun’im Musthafa Halimah, diterjemahkan dlm bahasa Indonesia oleh Abu Fudhail , isinya merujuk pada ucapan Sayyid Quthb, Muhamamd Quthb, Fi Dhilalil Qur’an, Thariqud Da’wah fi Dzilalil Qur’an. Penerbit at Tibyan juga menerbitkan hasil terjemah Abu Umar Basyir Al Medani yang sering mengisi di At Turots Jogjakarta. Maka semakin jelas siapa Abdul Hakim dan konco-konconya, Abu Ihsan Al Atsary, dan penerbit At Tibyan serta penerjemah-penerjamah didalamnya.
Informasi diatas dikumpulkan dari Internet, email, mailing list dan selebaran yang Insya Allah terdokumentasikan dengan baik dan sebagian ditampilkan di Download Center www.salafy.or.id/download.php.

(Direkam dalam kaset yang dibawa oleh Al Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani, pengasuh PP Al Anshor Jogjakarta, beliau yang menanyakan kepada Syaikh Yahya Al Hajuri, Yaman saat belajar disana. Diterjemahkan secara ringkas oleh ustadz Qomar Su’aidi, Lc, dengan edit tanda baca, teks Al Quran, tambahan keterangan (red) oleh tim Salafy.or.id)

Tinggalkan komentar

Kamu harus log in untuk menulis komentar.


PHP Error Message

Fatal error: Call to undefined function spa_default_options() in /home/a2397988/public_html/wp-content/plugins/snap-shots-for-wordpressorg/ald-snapshots.php on line 97

Free Web Hosting